Sebagaimana ajaran Islam yang tidak membedakan pangkat, keturunan, kekayaan, maupun kebangsaan seseorang, Sunan Ampel sangat menjunjung tinggi egalitarianisme atau nilai kesetaraan yang hari ini bisa kita temukan setidaknya pada struktur makam yang sejajar dengan tanah, tidak menjulang tinggi, dan tanpa dinding serta cungkup seperti umumnya pesarean para raja.
Hanya ada pagar yang dibangun mengelilingi dan untuk menandai posisi makam Sunan Ampel dan beberapa keluarga inti, salah satunya makam istri Sunan Ampel bernama Nyi Ageng Manila (Dewi Candrawati) yang letaknya tepat di samping (sebelah timur) makam Sunan Ampel.
Selama ini, tidak pernah dilakukan rekonstruksi pada makam Sunan Ampel, kecuali hanya penambahan batu nisan dan penambahan kijing berlapis keramik pada tiap sisi makam, yang dimaksudkan untuk memudahkan identifikasi makam Sunan Ampel di tengah beberapa makam lain yang ada di sekitar area tersebut.
Adrian Perkasa (Jawa Pos, 8/4/2021) menilai tipologi pada nisan awal makam Sunan Ampel dapat dikategorikan sebagai nisan bertipe troloyo. Tipe nisan tersebut merupakan bentuk umum dari beberapa nisan di komplek Makam Troloyo Mojokerto yang berasal dari abad ke-14 sampai ke-15.
Dengan demikian, berdasar pada kesamaan tipologi pada nisan makam, maka dapat disimpulkan bahwa ada keterkaitan antara komplek Makam Troloyo Mojokerto dengan makam Sunan Ampel. Apalagi jika mendasarkan pada sumber-sumber tertulis yang menyebut Sunan Ampel wafat pada paro kedua abad ke-15, meskipun tetap diperlukan adanya penelitian lebih lanjut atas sumber-sumber tersebut, termasuk untuk menguji hipotesis tentang hubungan antara makam Sunan Ampel dengan komplek Makam Troloyo Mojokerto.
