Masjid Agung Sunan Ampel

Masjid Agung Sunan Ampel: Monumen Peradaban Islam Nusantara

Tak terbantahkan bahwa keislaman masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa, yang bertahan sampai hari ini adalah buah dari perjuangan para penyebar Islam, terutama Sunan Ampel. Sebab barulah pada masa Sunan Ampel bersama sekelompok sunan lain yang tergabung dalam dewan Wali Songo, Islam menular dalam skala masif dan meluas. Islam yang semula masih dipeluk oleh komunitas-komunitas pedagang muslim yang berlayar masuk dan menetap di Nusantara, lambat laun diterima pula oleh sebagian besar penduduk Nusantara, terutama di Jawa.

Islam diperkenalkan lebih lanjut diajarkan dengan cara dan pendekatan yang memungkinkan bagi masyarakat setempat untuk tidak merasa curiga, sinis, maupun terancam dengan sesuatu yang bersifat baru itu.

Perkembangan dakwah Islam tersebut terus berlangsung hingga sepeninggal Sunan Ampel dan berakhirnya era Wali Songo yang digantikan oleh ulama-ulama generasi penerusnya. Sebagai penghormatan kepada Sunan Ampel atas jasanya membuka jalan (babat alas) perjuangan penyebaran Islam di Nusantara, beberapa peninggalan yang diwariskan, entah itu aset intelektual maupun aset situs bangunan, masih dirawat dengan baik.

Pemikiran dan gerakan dakwah Sunan Ampel hingga kini masih dan terus menjadi subjek kajian para ulama dan akademisi, di pesantren- pesantren maupun di kampus. Pada sisi yang lain, Masjid Ampel Denta (Masjid Agung Sunan Ampel) sebagai salah satu warisan Sunan Ampel yang paling penting. juga masih tetap “dihidupkan” sebagai pusat peribadatan dan pengkajian lslam.

Dalam sejarahnya, Masjid Agung Sunan Ampel menjadi tempat Sunan Ampel memperkenalkan ajaran-ajaran Islam kepada para pengikut juga masyarakat, dan di sana pula konsolidasi dakwah Islam Wali Songo dilakukan. Hingga kini, Masjid Agung Sunan Ampel telah melintasi zaman sekira enam abad lamanya, terhitung sejak awal kali dibangun pada perkiraan abad ke-15.

Nilai historis yang menyertai selama berabad-abad, menjadikan Masjid Agung Sunan Ampel sebagai monumen sejarah peradaban Islam di Indonesia sekaligus situs yang menarik banyak pengunjung.

Hampir setiap hari, orang-orang yang berasal dari berbagai daerah bahkan kadang dari luar negeri, datang ke kawasan Masjid Agung Sunan Ampel untuk berziarah, itikaf, atau untuk melakukan penelitian. Karena alasan itu pula, sejak tahun 1972, Pemerintah Kota Surabaya menetapkan kawasan Masjid Agung Sunan Ampel sebagai situs wisata religi.

Selanjutnya pada tahun 1996, melalui Surat Keputusan Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat Surabaya Nomor 18845/251/402.1.04/1996, situs Ampel Denta yang meliputi Masjid Agung Sunan Ampel dan Makam Sunan Ampel ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya di Kota Surabaya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *