GAPURA MAKAM SUNAN AMPEL

Terlepas dari karakteristik struktur makam yang mencerminkan nilai-nilai egaliter, adanya beberapa gapura kuno yang mengarah ke komplek makam Sunan Ampel tetaplah menjadi penanda status keluhuran derajat sosial Sunan Ampel sebagai seorang raja atau pemimpin umat.

Gapura yang semula berjumlah tujuh kemudian kini hanya tersisa lima itu, oleh masyarakat diistilahkan sebagai “Pancer Limo” dan merupakan simbolisasi atas lima rukun Islam. Masing-masing gapura disematkan istilah yang menggambarkan tiap-tiap dari lima rukun Islam, di antaranya: Gapuro Panyeksen (Syahadat), Gapuro Madep (Salat), Gapuro Ngamal (Zakat), Gapuro Poso (Puasa), dan Gapuro Munggah (Haji).

Belum dapat dipastikan kapan gapura-gapura di komplek makam Sunan Ampel itu dibangun, se’ tahun 2016, sempat ditemukan ukiran pada Gapuro Munggah berupa tulisan Jawa kuno “Adhanawalewa wawadha aranga asasawapa” (Barangsiapa yang lewat maka akan selamat), tahun 1461 Saka dalam kalender Jawa yang diperkirakan bertepatan dengan 1539 Masehi.

Secara arsitektur, bangunan gapura-gapura di komplek Makam dan Masjid Agung Sunan Ampel tampak mirip dengan Kori Agung pada bangunan Hindu Bali. Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan menduga ornamen relief pada gapura-gapura tersebut bernuansa arsitektur era Majapahit (Azmi, 2021). Penelitian Budiono, dkk, (2021) berjudul “Ornamen Masjid Sunan Ampel, Sunan Giri, dan Sunan Sendang” menguatkan hal itu. Mereka mengamati ornamen-ornamen yang ada pada masing-masing dari lima gapura paduraksa.

Secara keseluruhan, terdapat ornamen stilasi dari tumbuhan menjalar di bagian atas masing-masing gapura, yang mengandung makna kesuburan atau produktifitas–baik dalam konteks kemakmuran ekologis (tanah) maupun dalam pengertian biologis yakni termakmuri keturunan. Yang membedakan antara ornamen pada satu gapura dengan ornamen pada gapura lainnya adalah detail ornamen. Pada Gapuro Panyeksen, misalnya, ornamen stilasi- tumbuhan-menjalar juga dipenuhi dengan kuncup-kuncup bunga.

Hal tersebut berbeda dengan stilasi- tumbuhan-menjalar pada Gapuro Madep yang dịpenuhi dengan bunga-bunga bermekaran, atau pada Gapuro Ngamal di mana buah-buah memenuhi stilasi-tumbuhan-menjalar. Perbedaan pada detail ornamen tersebut dapat dimaknai sebagai penanda proses dalam rangkaian fase pertumbuhan benih atau janin.

Di samping itu, terdapat pula ornamen stilasi dari lambang surya Majapahit pada bagian bawah (kanan dan kiri) gapura. Seperti ornamen di bagian atasnya, ornamen stilasi- lambang-Surya juga memiliki detail khusus yang membedakan antara satu gapura dengan gapura yang lain. Misalnya pada Gapuro Ngamal ornamen stilasi-lambang- surya terbentuk oleh susunan memusat dari empat bunga dan empat daun cengkeh. Itu berbeda dengan stilasi-lambang-surya pada Gapuro Poso yang bentuknya menyerupai Bunga Wijaya Kusuma bermahkota delapan dan bersusun tiga, atau dengan stilasi- lambang-surya pada Gapuro Munggah yang serupa dengan bunga bermahkota delapan dan tampak seperti perisai.

Berdasar pada ornamen-ornamen gapura paduraksa di komplek Makam dan Masjid Agung Sunan Ampel tersebut, Budiono, dkk menyimpulkan bahwa hampir semua ornamen berlanggam Majapahit atau pra-lslam, seperti Surya Majapahit dan Lung-lungan atau suluran. (Lihat: Budiono et al., 2021, 18-19)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *