SUNAN AMPEL DAN TANAH SURABAYA

Ada kenyataan lain yang tidak boleh diabaikan dalam membaca sepak terjang Raden Ahmad Rahmatullah dalam memasyarakatkan Islam di tanah Jawa, yakni kondisi geografis Ampel Denta yang begitu strategis. Surabaya sebagai kota pesisir dengan muara sungai yang selanjutnya berkembang menjadi pelabuhan dan menjadikannya salah satu jantung perdagangan internasional di Nusantara, turut memudahkan arus sirkulasi informasi; tak Rahma yang menarik perhatian datang Ampel Denta dan meniadi pengikut Raden Ahmad Rabmatullah vang memang tidak pernah membatasi siapa pun dan dari penjuru dunia mana pun untuk mengenal dan mempelajari apa itu Islam.

Selain pelabuhan yang menghubungkannya dengan daratan-daratan jauh, Surabaya juga memiliki sembilan anak sungai di mana Kali Mas dan Kali Pegirian menjadi yang terbesar dan menjadi pintu masuk dari dan menuju daerah-daerah pedalaman Jawa. Sifat strategis dari sebuah wilayah tentu saja bernilai ekonomis dan mengundang banyak pendatang untuk mencari peruntungan.

Menurut A.P. Trinarso, dkk, mereka umumnya masuk melalui laut dari Madura, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatra; tetapi ada juga yang berasal dari pedalaman pulau Jawa dan masuk melalui delta sungai Brantas maupun melalui jalan darat. Sedangkan pendatang jauh seperti kelompok etnis Tionghoa, Arab, dan belakangan pedagang dari Eropa, tiba melalui jalur laut. Masing-masing menetap dan hidup secara berkelompok. (Trinarso et al, 2018, 404)

Sebagai contoh, Ampel Denta-tepatnya di sekitaran Masjid Agung Sunan Ampel-adalah kampung di mana sebagian besar komunitas Arab bermukim. Meskipun begitu, Artono, mengutip D.G. Stibbe (1921), mengungkapkan bahwa permukiman Arab di Ampel Denta atau yang jamak disebut Kampung Arab tidak sepenuhnya dihuni orang-orang Arab, tetapi ada juga orang-orang Moor, orang-orang Benggala, dan tentu saja orang-orang pribumi (Rabani & Artono, 2005, 122). Bahkan, LW.C. van den Berg dalam bukunya Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara mencatat keberadaan sejumlah kecil orang-orang Tionghoa yang tinggal di Kampung Arab kala itu (Berg, 1989, 76).

Dengan demmikian, inklusivitas masyarakat Ampel Denta pun menjadi satu dari sekian nilai yang turut mempengaruhi proses dakwah Raden Ahmad Rahmatullah. Kedalaman ilmu yang terwariskan dari Ayahnya, lbrahim as- Samargandy yang juga seorang penyebar Islam; relasinya dengan lingkungan penguasa kerajaan Majapahit yang ia peroleh melalui bibinya, Darawati, dan pada gilirannya mengamanatinya posisi penting sebagai Sunan Ampel; dan letak geografis Ampel Denta yang strategis, sebagai bagian dari wilayah Surabaya yang ramai, sibuk, dan berkembang pesat; menjadi kombinasi nilai yang sangat menunjang misi Raden Ahmad Rahmatullah untuk mengembangkan peradaban Islam di Nusantara, dimulai dari Ampel Denta.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *